BERITA » Lingkungan

Greenpeace Dukung Penolakan Terhadap PT RAPP

PadangKini.com | Senin, 11/01/2010, 13:09 WIB

PADANG--Greenpeace mendukung pernyataan sikap masyarakat Teluk Meranti dan desa-desa sekitar yang secara tegas menolak dilanjutkannya penghancuran hutan semenjung kampar oleh  PT RAPP.


"Greenpeace mendesak Pemerintah memenuhi janjinya untuk mengevaluasi perizinan PT RAPP dan meminta RAPP untuk menunjukkan komitmen lingkungan dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat di Semenanjung Kampar," demikian siaran pers Greenpeace yang diterima PadangKini.com, Senin (11/1/2010).

Greenpeace menyebutkan, sekitar seribu warga Teluk Meranti berkumpul di  lapangan sepak bola desa pada Kamis (7/1/2010). Mereka menyatakan sikap menolak hutan Semenanjung Kampar yang dikelola perusahaan milik Asia Pacific Resource International Limited (APRIL) itu.

Deklarasi penolakan juga diikuti puluhan warga dari empat desa di sekitar Semenanjung Kampar, yakni Desa Kuala Panduk, Teluk Binjai, Pulau Muda, dan Desa Segamai yang juga merasa terancam atas aktivitas PT RAPP di hutan dan lahan pertanian mereka.  

"Ratusan hektar lahan pertanian kami sudah diambil sepihak oleh perusahaan, banyak program pertanian pemerintah yang seharusnya membantu ekonomi masyarakat gagal karena RAPP, sekarang mereka buat bencana lebih besar mengambil hutan kami lebih dari itu, sementara perusahaan tidak bisa memberi hak kompensasi," ujar Rusman, tokoh masyarakat Teluk Meranti seperti dikutip siaran pers Greenpeace.

Menurut Rusman, deklarasi dilakukan setelah masyarakat melakukan beberapa kali pertemuan dengan pihak PT RAPP untuk bernegosiasi meminta kompensasi atas pengambilan hutan mereka. Namun pihak RAPP tidak memperlihatkan komitmen untuk menghormati hak masyarakat.
PT RAPP selama ini memang merupakan pelaku utama perusak hutan di Semenanjung Kampar yang kaya karbon. Padahal Semenanjung Kampar adalah tempat yang wajib dilindungi untuk mencegah dampak bencana akibat perubahan iklim. Hutan di kawasan ini tinggal tersisa 400.000 hektar dari jumlah semula 700.000 hektar.

"Pemerintahan SBY harus bertanggung jawab terhadap keselamatan masyarakat dan lingkungan Semenanjung Kampar, penyelamatan kawasan Semenanjung Kampar tidak hanya akan berdampak positif bagi upaya pencapaian komitmen Indonesia untuk pengurangan emisi 26 persen pada tahun 2020 namun juga memberikan harapan kehidupan lebih baik pada masyarakat di Semenanjung Kampar, operasi penghancuran hutan yang dilakukan oleh RAPP harus dihentikan sekarang," kata Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

November dan Desember Greenpeace mendirikan Pos Pembela Iklim (Climate Defender Camp) di Semenanjung Kampar untuk memperlihatkan pengabaian hukum dilakukan oleh RAPP dengan merusak hutan gambut yang kedalamannya lebih dari 3 meter yang kemudian menginspirasi masyarakat untuk menuntut perlindungan hutan dan gambut pada kawasan tersbut.

"Serangkaian aksi ini membuat Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menghentikan sementara izin PT RAPP di Semenanjung Kampar, Menteri kemudian membentuk tim independen untuk menyelidiki kemungkinan pelanggaran dari izin RAPP, tetapi Bustar melihat bahwa tim ini gagal mengakomodasi kepentingan masyarakat dan ada indikasi PT RAPP melakukan pendekatan-pendekatan kepada tim ini dengan cara memfasilitasi perjalanan tim independen," demikian siaran pers Greenpeace. (s)

1 Komentar Pembaca

  • 1 irvon Langsa Sabtu, 06/03/2010 22:39 WIB

    Greenpeace tidak menginginkan terjadinya perubahan iklim untuk kehidupan dimasa datang tetap terjaga....Masalahnya kenapa negara2 Barat yang dulu menebang hutan dinegerinya untuk dijadikan areal industri, perumahan dan pertanian tidak disuruh untuk menanami kembali apa yang telah mereka rusak...Hutan yang mereka habisi dahulu sekarang mendatangkan kemakmuran bagi negara Barat karena disana sudah ada industru dan lahan pertanian....Apakah kita tidak boleh membangun industri dan pertanian untuk kemakmuran kita...apakah kita akan terus miskin sementara mereka semakin kaya? Kalau ingin menjaga lingkungan suruh mereka tanam kembali apa yang telah mereka rusak dan jangan melarang kita menggapai kemakmuran seperti yang sekarang mereka rasakan.....

iklan