PADANG--Kalau sudah jadi penghulu, maka hilanglah nama, begitulah secara adat di Minangkabau. Maka Tifatul Sembiring yang ada nama marga Sembiring dari pihak ayahnya yang berasal dari Buluhrintang, Ta
nah Karo, akan disingkat menjadi ‘TS Datuak Tumangguang'.
Demikian disampaikan Asrul Diaz, Wali Nagari Guguak Tabek Sarojo, Kecamatan IV Koto, Agam, kepada PadangKini.com, Sabtu (6/2/2010).
Tifatul asli orang Jorong Guguak Tinggi, Kenagarian Guguak Tabek Sarojo. Ia disebut asli orang Minang asal Guguak Tinggi karena di Minangkabau turunan berdasarkan ibu (matrilineal).
Ibu Tifatul bernama Yandarnis, sekitar 68 tahun, kini tinggal di Bukittinggi, tempat Tifatul lahir. Neneknya, Haji Rianah, berusia sekitar 90 tahun, masih hidup dan tinggal di Jorong Guguak Tinggi. Kakeknya Muhammad Nur sudah meninggal.
"Pak Tifatul bersaudara semuanya merantau, tapi Pak Tifatul sering pulang kampung saat lebaran dengan mobil sendiri, Idul Adha tahun lalu dia pulang kampung ikut qurban," kata Asrul.
Tifatul dipilih kaum Suku Koto di Koto Anam Suku, Tabek Serojo karena dianggap orang Suku Koto yang berhasil dan bisa mengayomi anak kemenakan.
"Suku Koto Anak Suku sudah lama tidak memiliki penghulu karena tidak ada penggantinya, kini Pak Tifatul ‘mambangkik batang tarandam' dengan menjadi Datuak di kaumnya," katanya.
Menurut Asrul sama sekali tidak ada persoalan ayahnya berasal dari Sumatera Utara dan namanya memakai marga Batak, Sembiring. Sebab, itu tadi, kalau sudah jadi penghulu maka hilanglah nama.
Tapi kecenderungan dewasa ini para penghulu sendiri atau orang lain lebih senang menggunakan nama lengkap seorang penghulu dengan gelarnya. Apalagi seorang yang namanya terkenal. Tak tertutup kemungkinan nanti akan lebih sering dikenal ‘Tifatul Sembiring Datuak Tumangguang', bukan ‘TS Datuak Tumangguang'. Tapi itu tak jadi soal karena Tifatul asli orang Minang. (syof)
Mamak ambo kironyo PAk Tif ko.... Ambo urg Koto lo Ust. Selamat Buat Ust. Tifatul Sembiring. eh, Mak Datuak.
Mudah-mudahan ambo bisa pulang dan acara berjalan lancar. banyak ransanak nan diangkek jadi datuak termasuak 2 orang Petinggi negeri ini dari negeri kami Guguak Tabek Sarojo
Mudah mudahan, Nan Pinang ko lah pulang ka Tampuaknyo, Siriah ko lah pulang Gagangnyo. Kok indak, dima lataknyo; Maha nan indak dapek di Bali, Murah nan indak dapek di Mintak
ketek banamo, gadang bagala...iyolah mati dek gala se urang awak ko...:)
obral aja terus gelar datuak...paling negeri ini makin karab dengan bencana...saya jadi ingat ketika Gempa di padang panjang dan Pariaman yang lalu, ketika mengirim bantuan kepada korban...saya sempat bertanya, kenapa gempa ini terjadi? salah satu orang tua menjawab...gelar datuak di komersilkan...ah.... mudah2an pemberian gelar pd Tifatul dll ini tidak berakibat pada marahnya alam minangkabau...semoga,,,