BERITA » Lingkungan

INFORIAL-Gubernur Terima Rekomendasi Petani Tangguh Perubahan Iklim

PadangKini.com | Sabtu, 23/06/2012, 17:30 WIB

PADANGPARIAMAN-Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menerima rekomendasi penanganan pertanian yang tangguh bencana dan perubahan iklim dari Persatuan Petani Pemandu Masyarakat Tangguh Bencana dan Perubahan Iklim (P3MTBPI) Padangpariaman.

Ini rekomendasi yang dihasilkan sekitar 1.500 petani Padangpariaman saat melakukan Jambore Petani pada 17-20 Juni 2012. Petani membacakan rekomendasi di hadapan Gubernur ketika menghadiri acara penutupan Jambore di salah satu areal pertanian di Korong Kampung Cubadak, Nagari Koto Baru, Kecamatan Padang Sago, Rabu (20/6/2012).

Gubernur mengaku tercengang dengan hasil rekomendasi yang terlihat seperti dirampungkan para akademisi di kampus-kampus.

"Poin-poin rekomendasi hasil dari tiga workshop selama Jambore yang diserahkan akan dipelajari lebih lanjut, kemudian akan disesuaikan mana dari poin tersebut yang sesuai dengan program pemerintah daerah," ungkap Gubernur.

Jambore Petani yang dilaksanakan P3MTBPI tersebut merupakan keprihatian masyarakat dari 20 nagari di Kabupaten Padang Pariaman yang merasakan terjadinya perubahan iklim yang sangat erat dengan aktivitas mereka bertani.

Di antara perubahan iklim tersebut adalah pola hujan yang tidak menentu, suhu malam dan siang yang jauh berbeda. Ini berdampak pada penurunan sumber mata pencarian masyarakat.

Mereka mencontohnya, akibat perubahan iklim tersebut panen durian menjadi berbeda. Selain hasil panen menurun, juga terjadi perubahan rasa yang tidak seenak dulu. Padahal durian salah satu sumber pendapatan tahunan petani di Padangpariaman.

"Serangan hama dan penyakit pada tananamn kakao kini juga jauh meningkat," kata Indra Medi, koordinator jambore yang juga petani.

Ia juga mengungkapkan, perubahan pola hujan di beberapa daerah seperti Nagari Ulakan, Sanur, Sicincin, dan Sungai Buluh telah menyebabkan terjadinya erosi, longsor, dan banjir.

Masyarakat yang tergabung dalam P3MTBPI merasa harus cepat bergerak dan mengabarkan kepada masyarakat dan pemerintah untuk mengantisipasi bencana. Mereka juga merasa harus mencari pihak pendamping.

Dalam setahun terakhir mereka didampingi Yayasan FIELD Indonesia melalui program FIELD-Bumi Ceria. Program ini  membantu petani di 20 nagari tersebut untuk mempelajari berbagai hal menyangkut membangun ketangguhan masyarakat untuk pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim.

"Salah satu bagian dari program FIELD-Bumi Ceria, melalui kegiatan SL PEKKERTI (Sekolah Lapangan Penilaian Kerentanan dan Kapasitas Secara Parsitipatif) telah memberi kesadaran kami akan berbagai hal," kata Kartini N, salah seorang petani yang mengakui telah mendapat manfaat banyak dari materi Living Food Bank (Lumbung Pangan Hidup) selama mengikuti Sekolah Lapangan.

"Kita mesti membuat jaringan kerjasama antara semua elemen masyarakat, pemerintah, atau NGO dalam rangka ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, dan dimulai dari diri petani sendiri," kata Kartini.

Prinsip dasar, katanya, setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu, mempunyai kemampuan untuk saling berbagi dan mempunyai inisiatif serta memberi contoh langsung yang bisa diikuti oleh warga lain.

Bupati Padangpariaman Ali Mukhni mengungkapkan kebahagiaannya dengan adanya kegiatan jambore petani dan program FIELD-Bumi Ceria yang telah dilaksanakan setahun terakhir di Kabupaten Padang Pariaman.

Hal tersebut diungkapkanya bersamaan dengan Gubernur Sumbar saat penutupan kegiatan jambore.

"Daerah Padangpariaman rawan bencana karena itu program ini sangat membantu kami dalam mesosialisasikan kepada masyarakat betapa eratnya kaitan lingkungan dengan bencana, jadi hal ini bisa langsung terpikirkan oleh masyarakat," ujarnya. (Inforial FIELD-Bumi Ceria)

Belum ada Komentar

iklan
  • ubh 2012