PadangKini.com | Rabu, 27/06/2012, 23:10 WIB
AGAM--Petani organik Sumatera Barat menilai hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rio+20 tentang pembangunan berkelanjutan yang berlangsung di Rio De Jeneiro, Brazil, 20-22 Juni 2012 gagal dan tak memberi dampak apapun untuk pembangunan pertanian di Tanah Air. Karena itu, kalangan petani mencoba meningkatkan kemandirian dan tak tergantung kepada pemerintah.
Isu tersebut mengemuka dalam diskusi pada hari ketiga Galanggang Alam Pertanian Organik (GAPO) II yang diikuti sedikitnya 500 petani di Istana Rakyat Selaras Alam, Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Rabu (27/6/2012).
Pengamat pertanian Nugroho Wienarto yang terlibat GAPO II mengatakan, hasil KTT Rio+20 terbilang mundur bila dibandingkan dari KTT-KTT sebelumnya. "Termasuk mundur dari hasil KTT Bumi 20 tahun lalu," kata Konsultan Senior FIELD-Bumi Ceria itu seperti dikutip siaran pers yang diterima PadangKini.com.
Menurutnya, KTT yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut, meski melalui debat panjang, tidak menghasilkan jalan keluar, khususnya bagi petani.
"Perdebatan tentang ekonomi hijau, pembangunan berkelanjutan, hingga hak-hak perempuan juga mengalami kebuntuan, banyak pihak tidak memiliki pemahaman yang sama tentang isu global tersebut," katanya.
Hasil Rio+20, menurut Nugroho, tidak menjamin ketersediaan pangan dunia bila dibandingkan konsumsinya yang terus meningkat. Kecenderungan ini didukung oleh pertumbuhan jumlah penduduk, namun disisi lain lingkungan makin merosot.
"Kesuburan tanah menurun, hutan-hutan terus ditebangi dan tidak ada kepemimpinan global yang berdiri menghadang semua itu," ujarnya.
Nugroho menjelaskan, merosotnya kualitas lingkungan telah berakibat pada kejadian bencana yang kerap terjadi.
Ditambah lagi dengan emisi gas rumah kaca yang sulit dikendalikan membuat suhu bumi semakin panas. Hal ini akan menimbulkan perubahan iklim.
"KTT Rio+20 hanya mengutamakan kepentingan dunia usaha tanpa upaya nyata untuk melindungi hak-hak petani," katanya. (pkc)