PadangKini.com | Selasa, 11/09/2012, 22:04 WIB

PADANG-Kawasan hulu hingga hilir Batang Kuranji masih terancam galodo. Ini karena sisa material kayu masih menumpuk di dua sungai sumber Batang Kuranji.
"Pihak terkait harus secepatnya membersihkan material kayu di sepanjang aliran sungai, terutama di daerah aliran sungai Padang Janiah," ingat Sekretariat Bersama Pencinta Alam (Sekber PA) Sumatera Barat.
Sekber PA baru pulang dari ekspedisi meninjau kondisi kawasan hulu Batang Kuranji setelah menimbulkan galodo. Tim dikoordinatori Rico Rahmad mencatat terjadi penebangan liar di hutan lindung yang sudah lama berlangsung, terdapat retakan banyak bukit, aroma belerang dari arah Solok, dan jejak harimau.
Berikut laporan lengkap tim Sekber PA Sumbar kami turunkan utuh. (pkc)
Sisa Material Galodo Mengancam Padang
Illegal Logging Terjadi Bertahun-tahun
Sebelum terjadinya bencana banjir bandang atau galodo, di kawasan Batu Busuak (aliran sungai Padang Karuah dan Padang Janiah) hampir tiap hari terjadi pembalakan liar. Menurut seorang penduduk yang tidak mau disebutkan namanya, tiap hari ada sekitar 15 kubik kayu yang dihasilkan dari illegal logging.
Pada umumnya, kayu diambil dari hutan lindung di sekitar area kedua sumber Batang Kuranji tersebut. Warga Batu Busuak yang berjumlah sekitar 150 kk, 90 persen terlibat dalam penebangan liar tersebut.
Proses pengambilan kayu dilakukan secara manual dengan menggunakan gergaji rantai (chain shaw). Jumlah gergaji rantai yang beroperasi setiap hari mencapai 15 unit dengan 50 orang pekerja.
Proses pengangkutan kayu dilakukan melalui aliran sungai. Setibanya di bendungan PLTA Kuranji milik PT Semen Padang, kayu-kayu tersebut dihanyutkan melalui boot atau dalam parit yang mengalir hingga ke turbin.
Penampung kayu hasil illegal logging berada dekat sebuah musala dekat Patamuan. Disana kayu diolah dan dijual sesuai dengan pesanan. Tokenya adalah seorang tokoh masyarakat setempat.
Upah pengangkutan kayu Rp150 ribu per kepala. Biasanya tiap tim berjumlah 6 orang dengan total biaya angkut ke bendungan Rp800 ribu per kubik.
Menurut warga setempat, penebangan kayu sudah ada sejak tahun 1950-an. Akibat penebangan liar, sumur gali warga sekitar sering mengalami kekeringan. Di sepanjang aliran sungai sudah sangat susah ditemukan kayu besar.
Galodo
Berdasarkan penuturan penjaga pintu air bendungan PLTA Kuranji, Abu Tasar, sumber galodo berasal dari dua sungai bertemu di bendungan tersebut yaitu Padang Karuah dan Padang Janiah. Sekitar pukul 17.00 WIB, 24 Juli 2012, air pada Padang Janiah membesar dengan membawa serta material kayu lumpur dan bebatuan.
Berlanjut pada pukul 19.00 WIB, air dari Padang Karuah semakin membesar. Di sisi lain, Padang Janiah juga semakin membesar dengan material kayu hidup dan bertabrakan dengan Padang Karuah. Material kayu serta bebatuan berasal dari longsoran-longsoran yang terjadi di beberapa bukit sepanjang aliran Sungai Janiah.
Saat banjir bandang, Abu Tasar menceritakan, ketinggian debit air dari dasar embung bendungan (PLTA Kuranji) mencapai 4 meter. Akibatnya, terjadi pendangkalan sungai dan pelebaran sungai karena besarnya debit air. Sehingga PLTA Kuranji tidak berfungsi.
Hasil Penelusuran
Banjir Bandang yang terjadi Juli lalu, menyisakan ancaman bencana ekologi yang nyata. Material banjir bandang faktanya tak hanyut hingga ke muara, justru menumpuk di beberapa titik sepanjang aliran sungai Padang Janiah, salah satu sumber Batang Kuranji.
Demikian temuan hasil ekspedisi yang dilakukan Sekretaris Bersama (Sekber) Pecinta Alam Sumatera Barat (Sumbar) di ruas aliran sungai Padang Janiah, beberapa hari yang lalu. Ekspedisi yang diketuai Rico Rachmad, menemukan banyak terjadi titik longsoran di punggung-punggung bukit yang berjejer dari Patamuan hingga ke perbatasan dengan Kabupaten Solok.
Dampak galodo juga menyebabkan terjadi pelebaran sungai dengan skala kecil hingga dua kali lapangan sepakbola. Gelondongan kayu bekas ditebang secara ilegal maupun yang tercerabut dari akarnya karena derasnya arus air menumpuk dibadan sungai yang berjumlah puluhan titik. Dikitari bebatuan berdiameter kecil hingga besar sangat potensial terbentuknya embung-embung, atau titik tumpukan air.
Banjir bandang atau galodo juga mengikis pinggiran sungai sepanjang 8 kilometer ke hulu tersebut. Tak hanya menyebabkan pohon bertumbangan, galodo juga menimbulkan erosi disejumlah titik di pinggir sungai. Disela-sela punggungan bukit juga bermunculan anak sungai baru yang diduga berasal dari mata air di perbukitan.
Ekspedisi empat hari ini juga menemukan kayu yang dalam proses penebangan, kayu olahan berjenis 6 x 10 dan 6 x 12. Berdasarkan observasi, penebangan kayu dilakukan dengan sistem tebang pilih. Meskipun demikian pada ketingggian di atas 300 Mdpl, kondisi hutan masih rapat.
Di ketinggian 400 Mpdl, tim juga mencium aroma balerang. Semakin ke atas, aroma tersebut semakin menyengat. Diduga aroma balerang berasal dari arah Timur atau dekat perbatasan dengan Kabupaten Solok.
Tim juga menemukan serpihan jenis bebatuan gunung api (pembekuan larva) pada ketinggian 600 Mdpl hingga 1000 Mdpl dan jejak harimau dan rusa pada ketinggian 400 Mdpl hingga 800 Mdpl.
Secara umum, ketinggian air banjir bandang mencapai 3-6 meter dari dasar sungai. Menurut analisa tim Sekber, galodo di sebabkan oleh kondisi curah hujan yang sangat besar yang di sertai angin kencang yang mengakibatkan runtuhnya tebing perbukitan dengan kemiringan 80-90 derajat.
Potensi Bencana
Melihat banyaknya kayu-kayu yang melintang pada aliran sungai dan banyaknya tumpukan kayu-kayu yang sangat besar mencapai diameter 4 meter, disertai dengan bebatuan besar dan material batu yang menumpuk di sepanjang aliran sungai Padang Janiah, berpotensi besar akan ada terjadinya embung/titik kumpul air yang sewaktu-waktu menyebabkan galodo yang lebih besar dengan membawa serta material kayu dan batu.
Di samping itu, masih banyaknya retakan-retakan yang menganga di 7 titik bukit (seperti Bukit Tindawan, Bukit Acak, Bukit Kapalo Cubadak). Retakan tersebut terlihat pada punggungan dan lembah perbukitan. Dampak penebangan kayu di hutan mengakibatkan debit air sungai turun naik, serta degradasi pohon penyanggah.
Rekomendasi
-Pihak terkait harus secepatnya membersihkan material (kayu) di sepanjang aliran sungai terutama di DAS Padang Janiah.
-Perlunya ekspedisi lanjutan untuk meneliti lebih lanjut berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa ada sumber air panas yang berasal dari hulu sungai Padang Karuah.
-Melakukan penelitian lebih lanjut terkait adanya retakan-retakan yang berada di punggungan Bukit Ngalau dan Bukit Alu-Alu.
Melihat kondisi DAS Padang Janiah, maka perlu penelitian pada sungai Limau Manih yang berkondisi menyerupai kondisi Padang Janiah (sungai Ulu Gaduik).
Berikut Rekaman Ekspedisi Batu Busuak Secara Rinci:
1.Titik Star di mulai dari bendungan PLTA batu busuk Bndg Btbsk pada 31-8-12 8:18:40 dengan koordinat S 000 52'51.8'' E 100¬0 28'12.4'' dengan ketinggian 257 Mdpl.
2.Ditemukan Tumpukan kayu Glondongan bekas tebangan pada 31-8-12 11:19:10 dengan koordinat S 00o 52' 45.9'' E 100o 28'31.3'' pada ketinggian 291 Mdpl.
3.Ditemukan tumpukan kayu yang berpotensi menjadi bendungan dengan tumpukan kayu tumbang yang dihanyutkan oleh air beserta kayu glondongan bekas tebangan dengan jenis kayu banio dengan ukuran diameter 40 cm pada 31-8-12 14:40:08 dengan koordinat S 00o 52' 39.9'' E 100o 29' 13.0'' dengan ketinggian 382 Mdpl.
4.Adanya lonsoran tebingbukit disebelah kanan sungan (sisi selatan ) yang masih berpotensi untuk lonsor kembali dengan ketinggian tebing +15 meter. Adanya kayu besar yang melintang pada aliran sungai. Pada 31-8-12 14:12:17 dengan koordinat S 00o 52' 44.4'' E 100o 28' 58.2'' dengan ketinggian 354 Mdpl.
5.Banyaknya tumpukan kayu dan adanya kayu yang melintang dengan diameter 120 cm dengan panjang + 20 Meter dengan jenis kayu Meranti pada Tgl 31-8-12 14:46:46 dengan Koordinat S00o 52' 39.4'' E 100o 29' 18.8'' pada ketinggian 397 Mdpl.
6.Longsoran tebing bukit sebelah kiri ( Utara) yang masih berpotensi untuk lonsor yang mana masih di temukan keretakan, beserta adanya kayu besar dan batu besar yang berada dipinggir tebing dengan kondisi tergantung, sewaktu -waktu bisa tumbang dan menutupi aliran sungai ditemukan pada, tgl 31-8-12 15:23:49 dengan koordinat S00o 52' 32.2'' E 100o 29' 27.7' pada ketinggian 406 Mdpl.
7.Ditemukan longsoran Anak sungai sebelah Kanan ( Selatan ) lembah BT. Acat pada Tgl 31-8-12 15:55:34 dengan koordinat S 00o 52' 23.7'' E 100o 29' 36.4'' pada Ketinggian 428 m.
8.Ditemukan bekas tebangan yang tidak selesai pada kayu yang masih berdiri di DAS dengan diameter + 60 Cm dengan tinggi 15 Meter pada Tgl 31-8-12 16:56:57 pada koordinat S 00o 51' 55.1'' E 100o 29' 58.1' pada ketinggian 517 Mdpl.
9.Lonsoran punggungan bukit di sebelah Kiri ( Utara) pada, Tgl 31-8-12 16:56:57 S 00o 51'55.1'' E 100o 29' 58.1'' dengan Ketinggian 517 Mdpl.
10.Ditemukan adanya jalan evakuasi kayu dari atas bukit sebelah kiri ( Utara) pada tgl 31-8-12 17:36:47 S0 51 47.9 E100 30 13.9 562 Mdpl.
11.Ditemukan lonsoran Anak sungai disebelah kanan (selatan) lembahan bukit BT. Acat pada Tgl 31-8-12 17:39:41 dengan koordinat S 00o 5' 47.8'' E 100o 30' 16.4'' pada ketingian 565 Mdpl
12.Ditemukan di bantaran sungai padang Janiah kayu glondongan bekas tebangan yang tidak selesai diolah dengan jenis kayu Madang Kuning dengan diameter 130 Cm diperkirakan jumlah isi mencapai puluhan kubik, pada Tgl 31-8-12 17:55:30 pada koordinat S 00o 51' 42.4'' E 100o 30' 21.3'' pada ketinggian 580 Mdpl.
13.Lokasi tumpukan matrial dengan jumlah Ribuan kubik berupa bebatuan dan kerikil luasan diperkirakan 3 - 5 Ha pada tgl 31-8-12 18:04:55 dengan koordinat S 00o 51' 38.4'' E 100o 30' 25.4'' pada ketinggian 598 Mdpl.
14.Posisi bermalam pada tgl 31-8-12 20:44:50 pada Koordinat S 00o 5' 39.3'' E 100o 30' 36.2'' pada ketinggian 662 m.
15.Ditemukan lonsoran pada lembahan sebelah kanan ( selatan) yang mana lembahan ini adalah lembahan yg tidak ada aliran sungan biasanya terbentuk ketika saat hujan datang . ditemukan pada tgl 01-9-12 11:42:00 dengan Koordinat S 00o 51' 40.7'' E 100o 30' 50.5'' pada ketinggian 718 Mdpl
16.Longsoran Tebing pada sesi sungan sebelah kiri ( Utara) yang mana masih mengalami keretakan berpotensi untuk lonsor kembali ditemukan pada, Tgl 01-9-12 11:51:30 S 00o 51' 38.3'' E 100o 30' 53.8'' pada ketinggian 729 Mdpl.
17.Longsoran Anak Sungai 01-9-12 11:56:11 S0 51 38.9 E100 30 55.5733 m
18.Longsoran Kika 01-9-12 13:23:07 S0 51 25.2 E100 31 11.9828 m.
19.Anak Sungailongsor 01-9-12 14:08:48 S0 51 15.3 E100 31 27.0926 m.
20.Air Terjun 01-9-12 14:41:10 S0 51 13.0 E100 31 32.9 982 m.
Perjalanan dari bendungan hingga menuju kem ke dua sejauh 5,4 Km, kemudian pada hari sabtu perjalanan hingga menuju hulu sungai Padang janiah sejauh 2,5 km.
Wassalam,
Sekretariat Bersama (Sekber PA) Sumbar
Tim Ekspedisi:
1.Rico Rahmad
2.Hanavi
3.Wilbran
4.Nof
5.Yose.