BUSET alias Budi Setiawan adalah penyanyi minang terkreatif dan terkocak saat ini. Anda yang sudah mendengar dan menonton kaset-kasetnya tentu sangat setuju.
Melejit lewat album perdana pada 2006 dengan lagu andalan "Radio Si Buset" dan "Bato Prend", Buset terus berkarya. Terakhir ia meluncurkan album kelima "Martina". Tak kalah lawak dalam album ini adalah drama-drama pendek yang sangat lucu, jauh lebih lucu dari acara-acara lawak Extravaganza di sebuah televisi Jakarta itu.
Yang menarik dari sosok Buset adalah apa adanya. Meski sudah terkenal sebagai artis minang popular, sosoknya terlihat seperti biasa dan apa adanya.
Siapa Buset dan bagaimana proses kreativitasnya? Berikut wawancara khusus
PadangKini.com dengan Budi Setiawan alias Buset yang dilakukan di rumahnya di Gulai Bancah dan disambung di sebuah rumah makan lesehan di Bukittinggi, Kamis 24 Maret 2011.
Karena panjang, wawacara ini diturunkan dalam dua tulisan. (REDAKSI)
Bagaimana awal Anda menjadi penyanyi?
Saya dulu suka nongkrong dengan teman-teman di Kota Pariaman. Kalau sudah pegang gitar, kumpul, apa yang tampak langsung jadi lagu.
Ada kawan sekolah, tentangga. Apa saja Nampak di jalan, apa yang aneh, jadi lagu. Di Kampung pondok dekat Bank BNI (Ini rumah ibu si Buset, sedangkan rumah ayahnya di Rumah Tabuik Subarang, tempat tabuik biasa dibuat setiap tahun-red).
Saya tamat SMA PGRI Pariaman. Sebelum masuk SMA PGRI pernah sekolah di STM Pariaman. Nama saya dari dulu sudah dikenal di sekolah dengan Buset. Itu kependekan nama asli, Budi Setiawan. Waktu sekolah saya malah pakai plang di baju dengan tulisan "Buset".
Awal rekaman ketika seorang teman saya yang cewek kebetulan istri Remon Kuantan, seorang pemusik yang tinggal di Pariaman. Istrinya ini tertarik dengan lagu yang saya bawakan, ia menyanyikan di depan Remon, minta Remon mengajak saya masuk rekaman. Rupanya Remon tertarik, bagaimana kalau kita bikin proyek untuk si Buset, katanya.
Setelah itu saya ketemuan dengan Remon Kuantan. Nama aslinya Remon Sukmal, di kaset namanya macam-macam. Remon sudah banyak membuat musik untuk penyanyi. Tahun 2006 itu saya dibikinkan musik.. Lagu pertama saat itu "Bato Prend", lalu "Radio Si Buset".
Dari mana ide lagu ini?
Dapatnya saat melihat pergaulan di sekeliling saya. Sudah biasa pergaulan anak muda, mabuk-mabukan. Kebetulan saat itu sedang hit gaya... "Manga ang tanyo ka den, bau ang mah..." (Kenapa kau tanya ke aku, apa urusanmu...-red). Itu bahasa gaul anak muda di Pariaman.
Bato Prend (Jangan Begitu, Kawan-red) itu saya gabung saja. Hasilnya digabung, kehidupan sehari-hari, istilah seperti itu dicampur saja.
Lagu itu banyak terinpirasi dari kehidupan kawan-kawan, kehidupan orang-orang, terpikir oleh saya.
Kenapa bisa masuk unsur Rap?
Itu untuk tukar-tukar suasana saja. Semua musik saya suka, yang penting senang didengar. Semua musik saya suka, cuma diambil satu-satu mana yang saya suka.
Yang paling mempengaruhi musik siapa?
Mungkin waktu kecil dulu karena Amak (ibu-red) saya suka memutar lagu Tan Baro, Syamsi Hasan Hasan, dan Benyamin Sueb, jadi agak terbentuk seperti itu.
Siapa bintang idola Rap yang Anda suka?
Saya nggak mengidoalakan siapa-siapa di rap, hanya dengar-dengar.
Membuat musik dan mencipta lagunya dengan apa?
Hanya dengan gitar, karena saya pandainya hanya gitar saja. Nggak pandai alat musik lain. Syairnya itu kadang-kadang selesai di studio. Konsep mentahnya dibawa ke studio, cuma idenya sudah ada, pemusiknya itu sudah paham dengan saya.
Biasanya kepada Remon saya katankan, "Bang, ide lagunya seperti ini, bagaimana musiknya." Lalu Remon membuat musiknya dan saya buat lagunya. Setelah music selesai, lalu direkam.
Setelah album pertama "Bato Prend", album kedua "Sipatuang" bagaimana?
"Jiko sipatuang kawin jo ulek bulu..." (Jika capung kawin dengan ulat bulu-red). Itu kritik sosial. Ibaratnya, kadang-kadang orang cari menantu itu kalau kaya sama kaya, kalau miskin dengan yang miskin juga, kenapa sipatuang kawin jo ulek bulu diibaratkan orang bansaik (miskin) ingin kawin dengan orang kaya. Apa mau menerima menantu miskin?
Dari mana belajar musik?
Saya kebanyakan otodidak. Kalau musik sebenarnya saya tidak mengerti.
Dari mana ide lagu lain dan drama pendek?
Ide dikembangkan, ceritanya, bagaimana jadinya, lalu dibuat musiknya. Imajinasinya saya bayangkan, lalu dibuat.
Bagaimana dengan lagu Anda "Indonesia Rawan Bencana"?
Itu satu lagu yang masuk dalam album lagu kumpulan bencana bersama penyanyi nasional, seperti Naif pada 2008.
Awalnya, LIPI dulu membuat acara di Taman Budaya, Padang. Mereka tertarik dengan penampilan saya waktu tampil dalam acara sosialisasi tentang bencana yang diadakan LIPI. Kata Mbak Irin dari LIPI, "Bud, bagaimana kalau kita membuat kompilasi tentang lagu bencana?"
Hanya tawaran di lapangan saja., lalu saya membuat lagu kompilasi. Lagunya bahasa Indonesia, karena lagu nasional. Artinya Zamrud, Naif, dan lainnya.
Waktu pembukaan di Yogyakarta sebagai background acara itu lagu saya. Di Metro TV waktu ditampilkan background musiknya juga lagu saya. Itu membuat saya bangga.
Sengaja memasukan cewek sebagai pendamping di tiap album?
Ya, itu permintaan produser agar memakai penyanyi cewek. Tujuannya agar lebih menarik pendengar dan penonton.
Album pertama dan kedua dengan Si Sil. Itu Raymon yang mencari Sisil di Lubuk Alung. Album terakhir atau kelima dengan Sherly.
Saya buat album sekali setahun. Setelah Bato Prend (2006) Sipatuang (2007), lalu Basunaik (2008), Dewi (2009), dan Martina (2010). Biasanya kami mengeluarkan album setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri. (Yanti/PadangKini.com/ Bersambung)
PERINGATAN: Tulisan ini milik PadangKini.com (hak cipta pada PadangKini.com/ PT Sarana Media Online) Harap tidak mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial Anda secara utuh. Kopian diperbolehkan untuk judul dan paragraf pertama lalu di-link-kan ke halaman ini. (REDAKSI)