Artis

Wawancara Khusus dengan Buset (2): Nyanyi Hingga ke Malaysia

PadangKini.com | Sabtu, 02/04/2011, 12:33 WIB

BUSET alias Budi Setiawan adalah penyanyi minang terkreatif dan terkocak saat ini. Anda yang sudah mendengar dan menonton kaset-kasetnya tentu sangat setuju.

Melejit lewat album perdana pada 2006 dengan lagu andalan "Radio Si Buset" dan "Bato Prend", Buset terus berkarya. Terakhir ia meluncurkan album kelima "Martina". Tak kalah lawak dalam album ini adalah drama-drama pendek yang sangat lucu, jauh lebih lucu dari acara-acara lawak Extravaganza di sebuah televisi Jakarta itu.

Yang menarik dari sosok Buset adalah apa adanya. Meski sudah terkenal sebagai artis minang popular, sosoknya terlihat seperti biasa dan apa adanya.

Siapa Buset dan bagaimana proses kreativitasnya? Berikut wawancara khusus PadangKini.com dengan Budi Setiawan alias Buset yang dilakukan di rumahnya di Gulai Bancah dan disambung di sebuah rumah makan lesehan di Bukittinggi, Kamis 24 Maret 2011.

Karena panjang, wawacara ini diturunkan dalam dua tulisan. Ini bagian kedua. (REDAKSI)



Mengapa Anda banyak memasukkan istilah dan budaya Pariaman?
Memang, bahasanya lirik lagunya juga bahasa Pariaman, karena itu bahasa saya, saya orang Pariaman.

Kenapa memilih membuat lagu minang yang kocak?

Saya lihatkini pasarannya yang kocak. Penghilang stres orang setelah bekerja. Kebanyakan anak-anak yang suka lagu saya. Kesukaan orang terhadap lagu minang ada masanya. Dulu banyak yang suka lagu pop, lalu pindah ke Cok Simbara, kini masanya lagi kocak. Ada lagu-lagu Edi Cotok, Mak Itam Mak Lepoh, Ajo Andre, dan Tampan.

Bagaimana awal masuk dapur rekaman?
Si Remon itu keras hati. Pokoknya nggak dapat produser harus tetap jalan. Cari produser dulu atau kita buat dulu, itu pilihannya.

Kami merekam dulu di Delta Studio, sama Jonpi, untuk album pertama, Remon yang membuat musik dan saya buat lagu, selesai 4 hari. Membuatnya itu berutang pula. Ya, modalnya nekad. Ngutang mulai transportasi, sewa studio, makan.

Lalu dijual ke produser, banyak yang nolak. Alasannya, yang seperti itu sudah ada. Waktu itu saya masih hanya pakai gitar, lalu oleh Remon dibuatkan musiknya, masih direkam pada kaset petak kosong.

Remon sangat gigih mencari produser, bahkan sampai ke Pekanbaru. Gigih sekali ia. Kemudian ketemu dengan Uncu (Samsuir) dari Planet Record Bukittinggi yang dipakai sampai sekarang.

Lolos dari Uncu ini lucu juga. Dia mendengarkan pertama kali pada anaknya yang berumur 4 tahun untuk menilai, di mobilnya. Nampaknya insting bisnisnya dipercayakan kepada anaknya. Ternyata anaknya suka lagu saya, maka diambil Unculah album itu. Isi album itu 10 lagu.

Kami langsung kontrak, album pertama beli putus. Album kedua hingga ke lima kontrak.

Sistem Kontrak dengan Planet Record bagaimana?
Saya dikontrak 3 tahun, tapi wajib buat lagu buat dia satu tahun satu album. Nggak kontrak model perusahaan, tapi kekeluargaan, seperti adik-kakak. Kalau kontrak model perusahaan ini banyak ikatan-ikatannya, tapi saya lebih senang kontrak dengan dia.

Kontraknya, misalnya 1 lagu Rp1 juta. Tapi akomodasi, konsumsi, pemusik, biaya studio, dia yang nanggung. Kita tidak mau tahu lagi. Nilai kontraknya untuk 3 tahun lumayanlah.

Dulu di album pertama kaset dan VCD, penjualannya katanya lumayan untuk 1 album, tapi berapa banyaknya saya juga nggak tahu. Dia distributornya, direkam lalu diperbayak di Jakarta.

Saya juga nggak mau tanya. Sistemnya beli jadi, lalu diberi uang. Namun operasional selama membuat album ditanggung Planet, termasuk membeli lagu dan biaya musik. Tapi kalau terjual lumayan dia sering memberi bonus, misalnya sepeda motor atau uang.

Kenapa album pertama beli putus?
Dulu saya nggak mikirkan uang. Menembus agar album ini dicetak sangat sukar sukur. Saya berangkat dari nol, nggak tahu sama sekali. Setelah itu mulai jelas sedikit demi sedikit tentang dunia rekaman, sistem kontrak.

Produser ada campur tangan soal isi?

Tidak, dia serahkan bulat-bulat ke saya sampai masternya keluar, termasuk video klip.


Studio rekamannya di Delta Studio. Ini studio rental. Besarnya hanya setengah kamar. Empat album di Delta dan satu album di Padang.

Kenapa memilih merekam di studio kecil, bukan studio besar?
Pemilik Delta Jonpi, dia bekerja di Studio Minang Record, jadi sudah ahli. Sebenarnya ini tidak tergantung besarnya studio, tetapi orang yang menjalankan. Operator di Minang Record hasilnya juga sama, walaupun alatnya di Minang Record lebih canggih.

Artis minang malah banyak yang memilih rekaman di studio Jonpi, di rumahnya. Bukan alas an karena lebih murah saja, tapi juga lebih praktis. Kalau di studionya kita bisa bebas mengembangkan ide kita.

Dalam lagu-lagu itu ada juga bahasa Inggrisnya, kenapa?
Itu sembarang sebut saja. Saya juga nggak tahu artinya.Itu percakapan campuran sehari-hari, tercipta di studio, ya apa saja yang terpikir, nanti mana yang tidak bagus dihilangkan. Itu di studio Delta Record di Aur Atas Bukittinggi.

Yang saya bawa ke studio itu hanya ide-idenya saja, konsep. Baru dikembangkan di studio. Satu album pertama dibuat 4 hari.

Soal "Radio Si Buset" Anda masih sekali terlihat sebagai penyiar, apa pernah nyiar?
Tidak, itu karena kesenangan saya mendengar radio saja. Lalu membayangkan bagaimana penyiar radio bekerja. Ide ini kadang sampai di studio berubah dan bisa berkembang. Remon Kuantan juga banyak memberikan saya ide-ide.

Kenapa memakai bahasa gaya Piaman (Pariaman-red)?
Itu karena itu bahasa sehari-hari saya dan lingkungan sekitar saya. Begitu juga cara saya bicara. Itu bahasa gaul sehari-hari. Satu lagi, bahasa Pariaman ini yang saya kuasai.

Bahasa Inggris, itu  bahasa Inggris sembarangan, nggak tentu itu, kalau orang Barat dengar mungkin pening juga dia, dan nggak tahu artinya lagi.

Saya juga senang putar-putar keliling kampung dengan sepeda di sekitar Kota Pariaman, dan bahasa di daerah sekitar Pariamanu bahkan lebih kental lagi aksennya. Saya senang memperhatikan dan mendengar celoteh orang-orang di kampung.

Apa akan tetap mempertahankan gaya seperti sekarang?
Mungin gaya tetap seperti ini, tetapi pengisian di dalam lagu mungkin tetap saya ikuti alurnya.

Ada yang protes dengan syairnya?
Ada juga, ada juga yang suka, tergantung pemikiran orang. Kalau orang seni, bagian tradisi hobinya, "apo lague bantuak itu" (Lagu apa itu yang seperti itu?-red).

Padahal saya mencoba bikin sesuatu yang baru. Saya tidak bermaksud kebarat-baratan, sekadar bergurau, saya juga tidak ingin mengubah adat di sini.

Video klipnya amat lucu, dari mana idenya?
Ini ide saya sendiri. Lalu ajak kawan-kawan di Pariaman. Sebelum membuat lagu itu sudah terbayang video klipnya seperti apa. Saya juga minta masukan dari teman-teman saya di Pariaman.

Shooting-nya juga di Pariaman, karena lebih dekat. Ada teman yang membuatkan video klipnya. Orang-orangnya juga dipilih dari teman-teman, anak-anak juga dari anak sekitar, jadi bukan anak theater.

Kenapa di klip gayanya bisa lepas?
Itu karena mood. Kalau mood keluar jadi lepas, tapi kalau lagi tidak mood bisa mono (bingung-red). Panggung kan beda dengan nyanyi di studio saat pembuatan video klip.

Setelah album pertama meledak, apa banyak permintaan show?
Saat itu saya tidak yakin dengan diri saya. Album pertama keluar, setahun saya tidak mencogok, saya berhenti bernyanyi dan membuat lagu. Ada orang minta acara alias job, tidak saya ambil. Nggak berani saya, karena saya nggak pernah tampil di panggung.

Setahun saya yakinkan diri, apa mampu atau tidakkah saya. Karena prinsip saya, orang mengundang mahal-mahal, cuma nanti orang tidak terpuaskan, nggak enak uang itu dimakan.

Itu setahun nggak pernah ambil job. Saya tidak percaya diri. Saya mau menghibur, cuma nanti kalau orang nggak terhibur bagaimana. Itu pemikiran saya dulu.

Lalu saya mulai belajar, bagaimana menyanyi di panggung. Saya lihat bagaimana penyanyi di panggung. Saya tidak mulai dari grup band, hanya otodidak, jadi saya butuh belajar.

Untuk show apa diatur produser?
Tidak, hanya sampai kontrak lagu saja. Saya dibebaskan melakukan show.

Di mana panggung pertama?
Di Pesisir Selatan, dibuat sendiri acaranya dengan teman-teman. Kenapa tidak di Pariaman, karena di seputaran Pariaman orang sudah tahu dengan saya bahwa saya tidak pernah manggung.  Jadi sudah jelas sama orang siapa saya.

Karena itu dibuat acara di Pesisir Selatan di daerah Surantiah. Itupun bertele-tele kejadiannya. Sampai orgen disiram dengan minuman keras oleh orang mabuk. Dibuatkan tempat berjoget, berjoget orang, ternyata di situ tidak aman.

Yang dibawa orgen dengan pentas besar. Waktu itu saya berdua dengan Sisil. Mulai dari jam 8 malam baru 5 atau 6 lagu, ada orang yang mabuk, mengacau juga. Namanya juga orang mabuk, bagaimana lagi. Setelah itu berhenti. Yang datang ramai, penuh tempat lokasi acara di tempat pelelangan ikan, banyak sekali yang datang.

Sempat kapok manggung sejak itu?
Tidak, itu malah tantangan untuk saya. Karena saya nggak tahu menahu masalah manggung. Setelah itu saya biasa manggung, semua job ditarik. Mulai dari pesta pernikahan, sunatan, hiburan 17-an, acara TV lokal, hingga Pilkada.

Kemarin saya buat kompromi (komedi promosi), mempromosikan produk dengan bagarah, bisa karupuak sanjai atau sekolah.

Pakai orgen?
Ya, orgen k-7000. Kalau orang menyediakan orgen, saya bawa musiknya. Saya nggak punya manajer. Manggung tergantung rejeki harimau, kalau puasa baru sepi job. Sering juga diundang untuk acara pilkada wali kota, bupati, dan gubernur.

Apa masih grogi manggung saat ini?
Grogi tidak hilang, pas pertama naik panggung pasti grogi.

Nyanyi apa biasanya di panggung?
Lihat situasi. Kalau banyak yang tua-tua dibawakan lagu yang tua-tua, misalnya lagu minang lama, karena yang tua ini apalagi orang rantau ingin mendengar lagu lama.

Lagu saya tetap saya bawakan, cuma melihat situasi. Kalau dibawakan lagu saya nanti orang-orang tua tidak paham, makanya dibawakan lagu lama. Lihat penontonnya.

Kenapa tidak menjadi penyanyi minang seperti yang lain dengan lagu mendayu-dayu?
Suka sih suka, tapi suara saya bertikai (lain-lainsaja-red). Bagaimana membawakan lagu mendayu, nanti bisa memekik orang mendengarnya ha... ha....

Penggemar dari mana?
Paling banyak anak-anak hingga ABG. Kalau yang tua ada juga, cuma nggak paham karena mungkin orang tua lebih suka lagu-lagu lama.

Jadi penyanyi minang apa prospeknya cukup cerah?

Ya, karena masih banyak peminatnya.

Show ke mana saja?
Permintaan manggung sampai ke Papua, saya baru dari Jayapura, itu yang mengundang orang awak di situ. Keluarga Minang di sana menelepon saya. Di tempat lain ada juga seperti Riau dan Jambi.

Di Papua acara halal bihalal orang awak di sana, di Hall, yang mita keluarga besar orang Minang di Papua. Juga diundang An Roy dan Sisil.

Di Pekanbaru saya diundang hampir tiap bulan. Orang yang ngundang beda-beda, umumnya acara baralek. Kalau acara baralalek ini saya menyanyikan selang-seling lagu sendiri dengan lagu orang lain.

Sekarang juga mengisi acara di Ramayana Bukittinggi sekali sebulan sejak 3 tahun lalu. Jadwalnya tengah atau akhir bulan. Itu permintaan pengunjung.

Setiap minggu saya selalu manggung, setiap hari Minggu selalu manggung.

Kalau ke Malaysia terakhir awal Maret lalu acara baralek di Gombak, Selayang, Ampang, Kuala Lumpur. Pokoknya di sana setiap minggu ada orang awak yang baralek.

Tarif kalau luar provinsi berapa?
Minimal kalau keluar provinsi Rp10 juta dan pesawatnya mereka yang nagging, juga akomodasi. Kalau dalam Sumbar tergantung kesepakatan.

Pendapatannya diinvestasikan ke mana?
Awalnya dulu untuk teman-teman, karena mereka banyak yang bantu, namanya juga bujangan.

Lalu buat bikin rumah orang tua, untuk Amak. Ayah saya sudah meninggal saat umur saya 4 bulan.

Jaso mande ndak tabaleh (jasa ibu tidak bisa lunas dibayar-red). Jadi dulu untuk memperbaiki rumah amak. Lalu saya menikahdan kini mulai membangun keluarga. Mulai mau beli rumah KPR.

Video lagu Anda juga ada di Youtube, Anda yang memasukan?

Itu teman saya yang memasukan, duludia di Padang, sekarang di Jakarta. Saya hanya sekali-sekali online, buka email.

Akun Facebook Anda bagaimana?

Itu juga teman yang buat  (Yanti/PadangKini.com)

BIODATA BUSET:

Nama: Budi Setiawan (Buset)
Kelahiran: Pariaman, 31 Agustus 1983
Pendidikan: SMA PGRI Pariaman
Hobi: Main bola, musik
Istri: Dewi Senjawarti
Anak: Allifa Nuha Zahra
Orang Tua: Nurwalis- Akhir Ali
Alamat: Kubu Gulai Bancah, Bukittinggi
Album: Bato Prend (2006), Sipatuang (2007), Basunaik (2008), Dewi (2009), Martina (2010), dan lagu "Indonesia Rawan Bencana" (dalam album kompilasi LIPI).

 

PERINGATAN: Tulisan ini milik PadangKini.com (hak cipta pada PadangKini.com/ PT Sarana Media Online) Harap tidak mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial Anda secara utuh. Kopian diperbolehkan untuk judul dan paragraf pertama lalu di-link-kan ke halaman ini. (REDAKSI)

Belum ada Komentar