AWAL perkembangan industri lagu Minang modern tidak dimulai di Sumatera Barat, tapi di Jakarta pada 1950-an dengan kehadiran Orkes Gumarang pimpinan Asbon Masjid.
Gumarang didirikan pada
1953 oleh sekelompok perantau Minang di Jakarta yang notabene adalah pemusik.
Gumarang pertama kali dipimpin Anwar Anief, beberapa bulan kemudian diserahkan
kepada Alidir, dan pada 1955 dialihkan kepada Asbon.
Gumarang terkenal
setelah piringan hitam album "Ayam den Lapeh" yang dilantunkan Nurseha meledak
di pasaran pada 1957. Nurseha, gadis manis asal Bukittinggi yang menamatkan SMP
di Bandung dan bekerja sebagai wartawati majalah Detik dan penyiar radio di
Jakarta.
Setelah Gumarang muncul
grup musik lainnya, Kumbang Cari, pada 1961 yang dipimpin Nuskan Syarif yang
sebelumnya juga anggota Gumarang.
Kumbang Cari mencuat
dengan kehadiran Elly Kasim dengan suaranya yang khas. Lagu "Bareh Solok"
ciptaan Nuskan melejit bersama lagu-lagu minang modern lainnya melalui suara
Elly.
Era 1970-an bisnis
rekaman mulai beralih dari Jakarta ke Sumatera Barat diawali grup musik Lime
Stone milik PT Semen Padang. Lime Stone mencuat dengan lagu-lagu gamad sarunai
aceh yang dinyanyikan Yan Juned. Era itu lagu gamad pun naik daun di Ranah
Minang, bersanding dengan lagu minang modern.
Era 1970 ini sudah ada 3
produser rekaman, Edo Record, Ganto Minang, dan Tanama Record. Lalu pada era
1980-an industri rekaman lagu Minang sempat terhenti.
Tahun 1990-an dianggap sebagai awal kebangkitan lagu Minang ketika penyanyi
Zalmon melegenda dengan lagu hitnya "Kasiak 7 Muaro" ciptaan Agus Taher. Puncaknya,
Zalmon dengan lagunya "Nan Tido Manahan Hati" ciptaan Agus Taher menyabet
penghargaan HDX di Jakarta pada 1995 mengalahkan album sunda Nia Daniati.
Melati dengan tembang "Bugih Lamo" ciptaan Tarun Yusuf mengikuti jejak sukses Zalmon pada 1996.
Dampak ramainya penyanyi
minang diikuti dengan menjamurnya indusri rekaman. Ini juga didukung ASKI
(Akademi Seni dan Karawitan Indonesia) Padangpanjang menyewakan studio
rekamannya. Sebaliknya menjamurnya produser juga diiringi semakin banyak muncul
pencipta lagu, penyanyi, dan penata musik. Bahkan juga meningkatkan jumlah studio
rekaman di Sumatera Barat.
Sebagai perbandingan,
saat itu di Provinsi Sumatera Selatan hanya ada 2 produser rekaman dan 1 studio
rekaman, sedangkan di Sumatera Barat ada 30 studio rekaman dan lebih 50
produser rekaman. Studio rekaman tersebut bahkan banyak disewa produser Jambi, Riau, Palembang, dan Sumatera Utara.
" Awal tahun 2000 merupakan
era berkembangnya Production House di Sumatera Barat, hampir semua cameramen dan editing VCD lagu dilakukan di
Padang," kata Agus Taher, Produser Pitunang dan pencipta lagu minang.
Tahun 2000-an juga ditandai dengan berdirinya ASRINDO (Asosiasi Industri
Rekaman Indonesia), berpusat di Padang. Tujuan organisasi ini untuk memberantas
maraknya pembajakan terhadap lagu-lagu Minang. Pada 2005 Agus Taher terpiilih
sebagai seniman musik yang menerima anugrah bakti musik
Indonesia bersama seniman lain seperti Gomloh dan Hary Rusli.
Perkembangan industri rekaman di Sumatera Barat sangat pesat. Menurut catatan
ASRINDO, dari Juli 2005-Juli 2006 ada 304 album yang direkam dan
dilemparkan ke pasaran. (Yanti/PadangKini.com)
Sumber:
-Agus Taher
-Kumpulan Lagu Minang
Modern Orkes Gumarang, PT Rora Karya: 1997.
PERINGATAN: Tulisan ini milik PadangKini.com (hak cipta pada PadangKini.com/ PT Sarana Media Online) Harap tidak mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial Anda secara utuh. Kopian diperbolehkan untuk judul dan paragraf pertama lalu di-link-kan ke halaman ini. (REDAKSI)
Ndak salah awak ,,,,,,ado penyanyi minang sebelum Yan juned ......yaitu Syamsi Hasan ....yang peg.KBN Padang dari Band Kabena Ria....!!!!