Mozaik Minang

Sejarah Industri Rekaman Lagu Minang

PadangKini.com | Kamis, 24/03/2011, 12:50 WIB

AWAL perkembangan industri lagu Minang modern tidak dimulai di Sumatera Barat, tapi di Jakarta pada 1950-an dengan kehadiran Orkes Gumarang pimpinan Asbon Masjid.

Gumarang didirikan pada 1953 oleh sekelompok perantau Minang di Jakarta yang notabene adalah pemusik. Gumarang pertama kali dipimpin Anwar Anief, beberapa bulan kemudian diserahkan kepada Alidir, dan pada 1955 dialihkan kepada Asbon.

Gumarang  terkenal setelah piringan hitam album "Ayam den Lapeh"  yang dilantunkan Nurseha meledak di pasaran pada 1957. Nurseha, gadis manis asal Bukittinggi yang menamatkan SMP di Bandung dan bekerja sebagai wartawati majalah Detik dan penyiar radio di Jakarta.

Setelah Gumarang muncul grup musik lainnya, Kumbang Cari, pada 1961 yang dipimpin Nuskan Syarif yang sebelumnya juga anggota Gumarang.

Kumbang Cari mencuat dengan kehadiran Elly Kasim dengan suaranya yang khas. Lagu "Bareh Solok" ciptaan Nuskan melejit bersama lagu-lagu minang modern lainnya melalui suara Elly.

Era 1970-an bisnis rekaman mulai beralih dari Jakarta ke Sumatera Barat diawali grup musik Lime Stone milik PT Semen Padang. Lime Stone mencuat dengan lagu-lagu gamad sarunai aceh yang dinyanyikan Yan Juned. Era itu lagu gamad pun naik daun di Ranah Minang, bersanding dengan lagu minang modern.

Era 1970 ini sudah ada 3 produser rekaman, Edo Record, Ganto Minang, dan Tanama Record. Lalu pada era 1980-an industri rekaman lagu Minang sempat terhenti.

Tahun 1990-an dianggap sebagai awal kebangkitan lagu Minang ketika penyanyi Zalmon melegenda  dengan lagu hitnya "Kasiak 7 Muaro" ciptaan Agus Taher. Puncaknya, Zalmon  dengan lagunya "Nan Tido Manahan Hati" ciptaan Agus Taher menyabet penghargaan HDX di Jakarta  pada 1995 mengalahkan album sunda Nia Daniati.

Melati dengan tembang "Bugih Lamo" ciptaan Tarun Yusuf mengikuti jejak sukses  Zalmon pada 1996.

Dampak ramainya penyanyi minang diikuti dengan menjamurnya indusri rekaman. Ini juga didukung ASKI  (Akademi Seni dan Karawitan Indonesia) Padangpanjang menyewakan studio rekamannya. Sebaliknya menjamurnya produser juga diiringi semakin banyak muncul pencipta lagu, penyanyi, dan penata musik. Bahkan juga meningkatkan jumlah studio rekaman di Sumatera Barat.

Sebagai perbandingan, saat itu di Provinsi Sumatera Selatan hanya ada 2 produser rekaman dan 1 studio rekaman, sedangkan di Sumatera Barat  ada 30 studio rekaman dan lebih 50 produser rekaman. Studio rekaman tersebut bahkan banyak disewa produser  Jambi, Riau, Palembang, dan Sumatera Utara.

" Awal tahun 2000 merupakan era berkembangnya Production House di Sumatera Barat, hampir semua  cameramen dan editing VCD lagu dilakukan di Padang," kata Agus Taher, Produser Pitunang dan pencipta lagu minang.

Tahun 2000-an juga ditandai dengan berdirinya ASRINDO (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), berpusat di Padang. Tujuan organisasi ini untuk memberantas maraknya pembajakan terhadap lagu-lagu Minang. Pada 2005 Agus Taher terpiilih sebagai seniman musik yang menerima anugrah bakti musik Indonesia bersama seniman lain seperti Gomloh dan Hary Rusli.

Perkembangan industri rekaman di Sumatera Barat sangat pesat. Menurut catatan ASRINDO, dari  Juli 2005-Juli 2006 ada  304 album yang direkam dan dilemparkan ke pasaran. (Yanti/PadangKini.com)


Sumber:

-Agus Taher

-Kumpulan Lagu Minang Modern Orkes Gumarang, PT Rora Karya: 1997.

 

PERINGATAN: Tulisan ini milik PadangKini.com (hak cipta pada PadangKini.com/ PT Sarana Media Online) Harap tidak mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial Anda secara utuh. Kopian diperbolehkan untuk judul dan paragraf pertama lalu di-link-kan ke halaman ini. (REDAKSI)

1 Komentar Pembaca

  • #1 Kusmal Zen,Ir Pekanbaru Rabu, 27/07/2011 20:29 WIB

    Ndak salah awak ,,,,,,ado penyanyi minang sebelum Yan juned ......yaitu Syamsi Hasan ....yang peg.KBN Padang dari Band Kabena Ria....!!!!

iklan
  • ubh 2012