Joni Aswira/ PadangKini.com
SEPINTAS SDN 08 Nagari Koto Gadang, IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat terlihat biasa-biasa saja. Dari bangunannya tidak mengesankan keistimewaan sebagaimana lazimnya sekolah-sekolah di nagari lain.
Halaman bermain murid tidak begitu luas. Hanya saja letaknya berada lebih tinggi di atas jalan kampung, sehingga kemungkinan sekolah akan banjir sewaktu hujan deras sangat nihil. Halaman itulah yang menjadi area bermain ratusan murid setiap kali lonceng istirahat berbunyi. Koridor selebar satu meter cukup untuk tempat bersenda gurau.
Namun karena terletak di kawasan yang sejuk, sekolah ini lebih representatif. Jauh dari keramaian kota Bukittinggi, tenang, dan udara pegunungannya yang senantiasa terhirup segar. Bentangan alam persawahan menghijau dan pada ruas lain hamparan padi menguning siap dipanen.
Alam Koto Gadang memang selalu mengundang decak kagum. Posisi geografisnya terletak di antara dua buah gunung yang menjulang. Persis sekali nagari dengan ketinggian sekitar 923 meter dari permukaan laut ini, berada di antara kaki gunung Singgalang dan di bagian timurnya, kita dapat melihat cadas dan puncak gunung Marapi.
Pemandangan gunung Marapi utuh terlihat bila tak tertutup kabut. Kampung yang berjarak sekitar 10 km dari kota Bukittinggi ini lebih lagi dikenal sebagai kampung terpelajar karena banyak melahirkan cendikiawan serta tokoh nasional hingga internasional sekaliber Sutan Sjahrir, Agus Salim, dan Rohana Kudus.
Koto Gadang memang kampung yang unik. Hampir di sepanjang jalan, dengan mudah kita jumpai bangunan-bangunan rumah bergaya Hindia-Belanda. Modelnya agak berbeda dengan rumah adat bagonjong Minangkabau. Bangunannya se
perti vila.
Bahan konstruksinya dominan dari kayu. Hanya pondasi yang terbuat dari beton begitu juga tangganya. Kadang kala rumah tradisional bisa kita temui diapit oleh satu hingga tiga rumah berbentuk vila ini.
Tengah Juli 2012 hari pertama dimulainya tahun ajaran baru 2012/2013. Sekilas, suasana keramaian sekolah yang memiliki 6 ruang belajar, satu ruang pustaka dan majelis guru ini, tak berbeda jauh dengan sekolah lainnya. Lantas, apa yang istimewa dari SDN 08 ini?
Di sinilah tempatnya dimana rangkaian sejarah pendidikan masa Pemerintah Hindia-Belanda itu dirajut. Tak banyak yang mengira, SDN 08 adalah episode selanjut dari sekolah HIS Kota Gadang yang didirikan pada 1912 oleh sejumlah tokoh cendikiawan Koto Gadang, termasuk Haji Agus Salim. Bahkan nyaris dilupakan bahwa sekolah ini telah berusia satu abad.
"Kalau dihitung dari tanggal pertama penerimaan murid 5 Juli 1912, sekolah ini sudah genap berusia satu abad. Tapi kalau dihitung awal mulai belajarnya, sekitar Oktober nanti," ujar Heratina Mahzar, perempuan berusia 71 tahun.
Nenek Hera, begitu panggilannya, masih kerabat mendiang The Grand Old Man, Haji Agus Salim. Nenek inilah yang menemani ke sekolah menjelang siang itu. Meski usianya terbilang senja, namun gerik langkahnya sigap. Sepanjang perjalanan menuju sekolah mulutnya tak henti bercerita beragam keunikan Koto Gadang.
Sekitar Pukul 11.00 WIB setiba di sekolah aktivitas belajar diketahui sudah berakhir. Namun, puluhan siswa berseragam putih-merah masih tampak bermain dengan riang. Beberapa guru kelihatan sibuk di meja kerja masing-masing.
Melinda, salah seorang guru senior menyambut kami dengan ramah. Melinda juga merupakan siswa angkatan 1969 di sekolah itu. Ia pun kaget, ketika nenek Hera mengabarkan usia sekolah tahun ini akan genap satu abad.
"Ya Allah, gak menyangka, ya kalau sekolah Linda ini sudah setua itu, di sini banyak menyimpan kenangan, senangnya lagi kalau ini bagian sejarah yang luar biasa," ujar Linda pada nenek Hera.
Menurut Nenek Hera, pada 5 Juli 1912 adalah hari pertama pendaftaran sekolah. Sedangkan belajar perdana dimulai pada 5 Oktober 1912. Dari arsip Stamboek der partie. H.I.S te Kota Gadang, diketahui ayahnya Mahzar bin Soetan Maharadja Kassier merupakan murid pendaftar keempat di waktu itu.
Di urutan pertama adalah Moesbar bin Soetan Maharadja Kassier yang tak lain adalah sang paman, kakak kandung ayahnya. Sekitar 151 murid yang tercatat dalam stambuk itu.
"Nah Inyiak (kakek) Agus Salim dengan inyiak saya, Soetan Maharaja Kassier itu saudara sepupu, mereka berdua adalah keturunan kakek yang sama, yaitu Abdul Rachman Datuk Dinegeri Orang Kaya Besar, tapi dari istri yang berbeda, intinya kita semua segaris keturunan dari Tuanku Nan Kecil," ujarnya.
Abdul Rachman Datuk Dinegeri Orang Kaya Besar adalah seorang Angku Jaksa. Dia wafat di Koto Gadang pada 14 Desember 1882, tak lama setelah pensiun. Abdul Rachman mempunyai istri 4 orang dan 14 putera-puteri. Enam orang dilahirkan istri ketiga bernama Tuo Sini, yaitu: Sutan Muhammad Salim, Sutan Adjam, Haji Tamin, Syafiah, Siti Maryam dan Siti Aisyiah.
Putranya Sutan Muhammad Salim (1851 - 1934) adalah seorang spesialis jaksa di Riau, Padang, dan Medan, hingga memasuki pensiun. Sutan Mohamad Salim adalah ayah Haji Agus Salim. Beliau meninggal di Medan dalam usia 83 tahun.
Hera melanjutkan, pembukaan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Koto Gadang diprakarsai oleh Vereeniging Studiefonds Koto Gadang yang lebih awal dibentuk pada 1909. Studiefonds Koto Gadang atau disingkat SKG merupakan sebuah perkumpulan kaum terpelajar, anak negeri yang ingin memajukan serta memeratakan pendidikan di Koto Gadang.
Tiga tahun sebelumnya juga telah ada perkumpulan bernama Julius, yaitu sekolompok pelajar dari kalangan anak Ambtenar (Pegawai Negeri) Koto Gadang yang beruntung belajar di Sekolah Raja (Pra kweekscool) Fort de Kock. Perkumpulan ini pada awalnya juga memiliki visi serupa, yakni memajukan pendidikan di Koto Gadang.
"Yang ingin kita luruskan adalah pendiri HIS ini bukan Haji Agus Salim sendirian, tetapi atas prakrsa perkumpulan Studiefonds KG, ketika itu Haji Agus Salim masih di Jakarta, saat beliau datang berlibur ke Koto Gadang untuk menikah, para pembesar Studiefonds ini memintanya mengajar di HIS itu, karena dia dianggap jenius dan hebat," ujarnya.
Perihal peranan Agus Salim bersama HIS itu diperolehnya dari buku laporan tahun ketiga Vereeniging Studiefonds Koto Gadang. Hera sendiri mengaku masih menyimpan salinan buku tahunan yang terbit pada 1912 itu hingga kini. Di sana katanya, tertulis Agus Salim selain menjadi pengajar, juga diangkat sebagai penasehat HIS.
Agus Salim menjadi guru di HIS selama kurang lebih empat tahun sampai 1915. Setelah itu ia mendapat tawaran pekerjaan lain dan harus meninggalkan kampung. Meski begitu katanya, sumbangan pemikirannya untuk pendidikan anak nagari di Koto Gadang sangat luar biasa.
"Memang tidak lama, tapi pemikirannya bagi dunia pendidikan sangat besar, pantas saja, dalam sejarah pun dicatat pada 1903, Agus Salim lulus dengan angka tertinggi di HBS seluruh penjuru negeri pada masa itu," ujarnya.
Latar belakang keluarga tak bisa diabaikan dari kepribadian Agus salim sebagai penerus generasi cendikiawan, Sutan Muhammad Salim, ayah Agus Salim menaruh perhatian yang tinggi terhadap pendidikan anak-anaknya.
Baik Agus Salim maupun saudara-saudaranya, semuanya mendapat hak yang sama. Semuanya berkesempatan belajar di sekolah-sekolah formal Hindia-Belanda. Cerminan itu kemudian membentuk semacam kultur keluarga intelektual. Karena dididik di sekolah Belanda, Agus Salim bersaudara mampu berbahasa Belanda dengan fasih.
"Seluruh keluarga Agus Salim peduli pendidikan, saudara perempuannya pun peduli pendidikan, buktinya, sebelum didirikan HIS saudara perempuan Agus Salim sudah lebih dulu mendirikan sekolah perempuan (sekolah Tante), begitu HIS dibuka, siswi-siswi di sekolah itu bergabung menjadi murid di HIS," ujarnya.
HIS dari Masa ke Masa
Setelah kaget mendengar usia sekolahnya menyongsong satu abad, Melinda langsung mengajak kami ke ruang pustaka lantai atas. Di sana ia menunjukkan sejumlah potret suasana sekolah di era 1970-an yang tertempel di kertas karton. Foto-foto lama ini tergantung di dinding yang kini sudah berbeton.
"Ini suasana sekolah di tahun 1970-an, kami sedang upacara, yang gendut ini saya, dari dulu memang sudah gendut," katanya diiringi tawa.
Melinda mengatakan, menurut cerita pendahulu, kondisi sekolah semasa ia belajar tidak banyak mengalami perubahan sepeninggalan siswa-siswa di era pra dan sesudah kemerdekaan. Kondisi gedungnya tidak pernah dibongkar sama sekali. Papan dinding pernah direhab beberapa kali. Tapi secara umum bangunannya masih kuat.
Begitu pun atribut kursi, meja, lemari, hingga papan tulis tidak banyak yang berganti. Melinda juga masih ingat posisi tiang bendera di halaman tidak beranjak bahkan sampai sekarang. Paling tiang yang pernah diganti. Halamannya sama sekali tidak diperluas.
Melinda mengaku, sekolah masih menyimpan arsip-arsip lama semasa HIS didirikan. Tertulis di dalam arsip bahwa lahan sekolah merupakan hibah dari Kaum Guci anak kemenakan Datuk Cumano Tanah Pusako Tinggi seluas 825 Meter. Bila diperhatikan kini, katanya, luas lahan pun tidak mengalami penambahan atau pengurangan.
"Mungkin saja benda sisa-sisa peninggalan HIS masih ada ketika itu, sayang dari kita banyak yang tidak tahu waktu itu," ujarnya.
Melinda melanjutkan, status nama sekolah dalam kurun waktu dua kali pemerintahan: Orde Baru dan reformasi, telah berganti-ganti. Melinda masuk sekolah itu pada 1969 ketika sekolah berstatus Sekolah Teladan.
Pada 1973 berganti menjadi SDN 01. Pada tahun itu, katanya, Emil Salim (keponakan Agus Salim) ketika itu menjabat sebagai Menteri Perhubungan datang berkunjung dan memberi pidato kepada seluruh murid. Saat itu Melinda duduk di bangku kelas 6.
Menjelang 1980-an nama sekolah berganti lagi menjadi SD Inpres 010. Pada 1982-1983 keluar ketetapan dari pemerintah bangunan inpres harus permanen. Bangunan semula dibongkar dan diganti semuanya beton. Nyaris semua mobiler sekolah juga diganti.
"Sempat juga menjadi penyesalan bagi orang-orang rantau, mereka hanya minta bangunan lama tidak dibongkar cuman dipugar saja, tapi ya ketentuan pemerintah ketika itu apa boleh buat," ujarnya.
Baru pada 2009 sekolah berganti nama lagi menjadi SDN 08 Koto Gadang dengan NSS. 101080105008. Karena pemekaran wilayah Nagari Malalak menjadi kecamatan, nomor sekolah kembali diurut.
Kini, katanya, SDN 08 kalau dilihat dari segi fisiknya tak jauh berbeda dengan sekolah lainnya. Tidak ada prasasti atau benda bersejarah yang menandakan ini adalah HIS yang dulu dibangun oleh tokoh-tokoh terpelajar Koto Gadang semasa Hindia Belanda.
Linda bahkan khawatir sejarah sekolah ini bisa lenyap disapu zaman. Kekhawatirannya beralasan. Ia bahkan mengaku, dirinyalah satu-satu alumni angkatan 1969 yang masih berdiam di kampung dan mengabdikan diri menjadi guru sejak 1980-an. Sementara teman-temannya yang lain berdomisili di perantauan.
"Sekarang siswanya pun lebih separoh juga bukan anak asli sini lagi, kebanyakan mereka anak perantau dari kampung sebelah di mana orangtua mereka dibayar untuk menggarap sawah atau menjaga rumah tua milik orang Koto Gadang yang di perantauan," ujarnya.
Jauh sebelum masa kemerdekaan, HIS beberapa kali mengalami pasang surut di tengah perkembangannya. Dalam buku berjudul Koto Gadang Masa Kolonial yang ditulis Azizah Etek, Mursjid A. M, dan Arfan B.R terbitan LKIS Yogyakarata 2007 tertulis pada awal berdiri, HIS tidak langsung resmi menjadi sekolah pemerintah (HIS Gubernemen). Artinya, status HIS bisa dikatakan swasta atau bernaung di bawah perkumpulan Studiefonds.
Studiefonds Koto Gadang sendiri merupakan buah diskusi panjang hasil pemikiran sejumlah tokoh, antara lain Tuanku Laras Yahya Datuk Kayo bersama Angku Jaksa: Muhammad Rasad Maharaja Sutan (Ayah Sutan Sjahrir), Sutan Burhanudin, Sutan Saripado, Sutan Pangeran, Sutan Mahyudin, dan Datuk Gunung Mas. Ikut berperan di dalamnya Datuk Raja Malintang penghulu kepala Koto Gadang dan Sutan Mentri Inlandscho Schriver Palembayan. Perkumpulan ini diresmikan 1 September 1909 dan berakta notaris No. 19 Tanggal 21 Januari 1910.
Pada 1910, Studiefonds mengawali langkah pendirian HIS dengan terlebih dahulu mengirimkan dua pemudanya ke negeri Belanda untuk meraih Diploma Guru Bahasa Belanda. Namun, hanya satu pemuda berhasil menuntaskannya dengan membawa ijazah, yaitu Kahar Mahsyhur Sedangkan Rustam, pemuda satunya lagi sakit dan meninggal.
Tujuannya agar sekembali dari Belanda, pemuda itu sanggup dan dapat mengembangkan bahasa Belanda kepada penduduk negeri. Di samping itu pada tahun yang sama 30 orang pemuda lain juga dikirim ke Pulau Jawa untuk belajar berbagai jurusan.
Pada 1912 sekolah HIS berbahasa Belanda di Koto Gadang mulai beroperasi sebagai sekolah kelas dua. Sekitar 151 anak tercatat dalam Stambuk sebagai murid pertama. Setelah itu pada 1929 HIS Koto Gadang secara resmi dijadikan HIS Pemerintah (HIS Gubernemen). Dengan begitu pemerintah Hindia-Belanda mulai mensubsidi pembiayaan.
Setelah negeri Koto Gadang menunjukkan kesungguhannya, baru 1929 diambil alih pemerintah, ringanlah beban Studiefonds, cita-citanya semula sudah tercapai.
Akan tetapi, pada 1934 HIS ikut mendapat terpaan angin malaise (semacam krisis) yang mengakibatkan pemerintah melalui Departement van Onderwijs mengeluarkan kebijakan tak mengenakkan. HIS diintruksikan menjadi "Sekolah Standar". Hal ini dianggap mampu mengefisiensi anggaran. Sekolah standar dimaksud adalah pemerintah secara perlahan akan mengurangi subsidi dan mengembalikan pengelolaannya ke SKG.
"Gaji guru-guru dikurangi sampai 55 persen bahkan banyak guru yang dipensiundinikan, pemerintah tak mensubsidikan lagi biayanya, secara bertahap satu per satu kelas diserahkan kembali ke SKG," tulis buku ini.
Hingga 1936 dua kelas sudah dilepaskan pemerintah ke SKG. Pemerintah tidak lagi mensubsidi anggaran. Sedangkan untuk kelas tiga hingga kelas tujuh masih dikategorikan HIS Gubernumen. Tak ingin status sekolah standar ini berlanjut, para pembesar SKG berjuang mempertahankan HIS agar tetap disubsidi pemerintah.
Sebelumnya, para ninik mamak penghulu telah berupaya keras mengatasi keputusan Sekolah Standar ini namun tidak berhasil. Akhirnya, lewat jaringan orang rantau, seperti Datuk Perpatih yang menjadi Anggota Volksraad di Betawi didelegasikan untuk mengupayakan lobi-lobi dengan pemerintah. Begitu juga Yahya Datuk Kayo yang sewaktu itu menjadi wakil Minangkabau di Volksraad.
"Senin 12 Oktober 1936 Yahya Datuk Kayo datang di Koto Gadang membawa berita baik, HIS (Hollands Inlandse School) akan diambil kembali oleh pemerintah pada tahun ajaran baru 1 Agustus 1937."
Namun, keputusan itu berlaku dengan syarat, yaitu mampu memenuhi target jumlah murid serta memberlakukan subsidi silang demi mengimbangi pengeluaran pemerintah untuk pembiayaan pendidikan, terutama gaji guru.
Pada 2 Agustus 1937 dilangsungkan upacara penyerahan kembali HIS Koto Gadang menjadi HIS Pemerintah. Hingga 1936 HIS Koto Gadang telah menelurkan lebih 50 murid yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang MULO, HIK, dan huishoudschool. (joni aswira)
PERINGATAN!
Jika Anda suka tulisan ini dan ingin merekomendasikan kepada orang lain di situs Anda atau jaringan sosial, jangan lakukan salin-tempel keseluruhan. Ambil judul dan paragraf pertama lalu sambungkan ke halaman ini. PadangKini.com sangat berterima kasih atas bantuan Anda. (REDAKSI)
Saya sbg anak nagari Kotogadang yg jg merupakan alumni SD Kotogadang, sangat bangga dg sekolah bersejarah ini. Tak terasa sdh 1 abad usianya. Semoga sekolah ini mampu mencetak tunas2 bangsa lebih banyak lagi.
Terima kasih utk Padang.com yg telah memuat tulisan ini...